Mari Memuliakan Perempuan
M. Zainal Abidin
Konco Diskusi LPM LenSa Media Saintek Unisnu Jepara
*Tulisan ini rencananya diterbitkan di Majalah Lensa Media Saintek Unisnu.
HAMPIR 70 persen karyawan di sekitar kawasan industri Mayong, Pecangaan, dan Kalinyamatan adalah perempuan. Ini dari pengamatan tiap kali pergi dan pulang kerja pabrik-pabrik di lokasi itu didominasi perempuan.
Sangat mudah membedakan karyawan pabrikan itu atau tidak. Salah satu cirinya mereka membawa seragam baju warna-warni. Ada hijau, orange, dan merah.
Saya sering papasan mereka sekitar pukul 10.00 malam. Kebetulan rata-rata saya pulang kerja dari Kudus pukul 10.30 malam. Ada karyawan pulang dan pergi. Saat itu jadi pergantian sift. Ada tiga sift. Sift pagi sekitar pukul 07.00. Siang sekitar pukul 14.00. Dan malam sekitar pukul 22.00.
Pemandangan ini hampir tiap hari saya temui. Kecuali hari Minggu.
Rata-rata wajah mereka muda, antara 20-25 tahun. Lulusan setingkat SMA.
Lumrahnya orang pulang kerja. Wajah kusut, lelah, dan kusam. Berbeda yang baru berangkat kerja. Wajah masih cerah dan pakaian rapi.
Saya sangat apresiasi beberapa perempuan ternyata memilih bekerja di pabrik untuk sesaat. Mereka mencari pengalaman. Salah satu mahasiswi saya di Unsinu nyambi kerja di pabrik itu. Kabar terakhir, dia sudah keluar dari pabrik itu dan memilih bangun usaha. Usaha ini memanfaatkan ilmu yang ia peroleh dari pabriknya. Dia masuk pabrik semata-mata untuk mencari pengalaman kerja.
—–
Gambaran di atas membuktikan begitu bakohnya perempuan. Utamanya ibu rumah tangga. Memiliki dua peran sekaligus dalam rumah tanggah. Sebagai penambah penghasilan rumah tangga tetapi sekaligus menjadi orang tua anak-anak.
Dari seluruh karyawan bestatus ibu-ibu, saya punya keyakinan 80 persen adalah ibu baik. Artinya tetap berusaha bertanggung jawab kepada keluarga sebagaimana kodrat seorang ibu. Menjadi ibu, manajemen keluarga, dan istri.
Islam memposisikan Ibu (perempuan) sangat mulia.
Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.” (HR Al Bukhari)
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
Artinya :
“Dan Kami wasiatkan manusia tentang kedua orang tuanya (ibu bapaknya); Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku lah kamu kembali. (QS: Luqman ayat 14)
Periode Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022-2027 di bawah kepemimpinan Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf, benar-benar membuat sejarah baru. PBNU memutuskan memasukkan 11 perempuan tanggung dalam kepengurusan baru. Mereka sebagai Mustasyar PBNU adalah Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid, Nyai Hj Shinta Nuriyah A. Wahid, Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudz. Sebagai A’wan PBNU Dr. Faizah Ali Sibromalissi, Hj. Ida Fatimah Zainal, Hj. Badriyah Fayumi, Masyrah Amwa, Hj. Durrotun Nafisah Ali Maksum. Sebagai Tanfidziyah PBNU Hj. Alissa Qutrunnada Wahid (ketua), Hj. Khofifah Indar Parawansa (ketua), dan Ai Rahmayati (Wasekjen).
Gus Baha dalam ceramahnya beberapa kali juga sangat memuliakan perempuan. Di antaranya beliau menggambarkan tidak pernah memarahi istrinya. Sangking tidak pernah memarahi istrinya, istri beliau sampai heran.
—
Jepara sebagai kota ukir, juga membanggakan tokoh-tokoh perempuan. Ada tiga perempuan pahlawan Jepara. Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan RA. Kartini.
Ratu Shima terkenal dengan pemilik kerajaan Kalingga. Kekuasannya sampai Batang, Semarang, dan Blora. Bliau terkenal dengan kebijaksanaannya. Menghukum putranya sendiri karena mencuri.
Ratu Kalinyamat terkenal beberapa kali menyerang Portugis ke Malaka. Ribuan tentara dikerahkan agar pasukan penjajah tak masuk Indonesia. Ratu Kalinyamat berhasil menghimpun kekuatan dengan kerajaan-kerajaan Nusantara untuk menghadang Portugis di Malaka. Hingga akhirya Portugis gagal secara kelompok pemerintahan masuk ke Indonesia.
R.A. Kartini melalui surat-suratnya menggemborkan perlindungan masyarakat Bumi Putra (sebutan Indonesia saat itu) di parlemen Belanda. Memperjuangkan hak-hak pendidikan dan kesejahteraan Bumi Putra di hadapan para dewan perwakilan rakyat Belanda.
—-
Miris, beberapa media yang kemudian membuat judul mendiskritkan perempuan. Misalkan media yang menbuat judul Tahun 2021, Ada 2.072 Janda Baru Jepara, Pengajuan Cerai Membludak, Jepara Banjir Janda; Ribuan Istri di Jepara Ramai-ramai Gugat Cerai Suaminya, Seribuan Istri di Jepara minta Cerai, Pemicunya Soal Gaji. (Silahkan searching di internet dengan judul di atas)
Secara judul, berita itu memantik atau memicu seseorang untuk meng-klik. Karena bombastis. Menarik. Variabel mengapa itu menarik, karena ada kata Janda. Secara psikologis Janda bagi orang tertentu (kebakayan orang) suka dengan kata itu.
Kalau diperhatikan secara detail, ada beberapa pertanyaan yang tak terjawab dalam pemberintaan itu. Pertama, tidak ada detail mengapa terjadi perceraian. Apakah faktor perempuan atau laki-lakinya? Tidak ada pembahasan detail objek sebab mengapa terjadi perceraian. Kedua, Sumber dari berita itu jelas tidak bisa mewakili penjelasan faktor perceraiaan. Karena penjelasan antara yang disampaikan di pengadilan dengan yang benar-benar terjadi biasanya berbeda.
Ketiga, mengapa kata yang dipilih itu janda, mengapa tidak kata duda. Keempat, tingginya perceraian tidak hanya terjadi di Jepara. Beberapa kali media online membahas perceraian juga terjadi di kota lain. Misal membuat judul 3.158 ibu muda Memilih Janda, Di Blora Terdapat 1.400 Calon Janda Baru.
Media kadang latah. Hanya mengikuti tema yang diliput oleh media lain. Tidak mempertimbangkan kaidah-kaidah Jurnalistik. Ironinya bahasa janda itu dijadikan guyonan. Klakar yang sebenarnya tak beretika.
—
Tahun 2019 saya pernah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Graha Pena Semarang. Salah satu materi disampaikan tentang Undang-Undang Pers Nomor perlindungan anak. Nynyiran berita tentang janda itu menurut hemat penulis memengaruhi psikolgis anak dari janda-janda itu.
—
Lebih bijak, ketika perempuan-perempuan yang bekerja di pabrik-pabrik itu dinarasika sebagai bukti usaha kuat para perempuan untuk mandiri. Tanpa meninggalkan kodrat seorang perempuan.
Mereka punya masalah yang kita tak tahu. Mereka punya kebahagiaan yang kita tak tahu. Mereka punya cara ibadah yang kita tak tahu. Husnudzon aja.
—
Media jangan membuat berita yang tanpa penelitian yang menambah kepelikan masalah kata “janda”. Begitu juga masyarakat, jangan guyonan tentang kata “janda”.
—
Selain para janda, anak-anak juga yang akan terganggu psikisnya. Bagi anak-anak, mereka tetap ibu. Mereka adalah perempuan kuat yang harus dimuliakan. (*)