Ketika atlet nasional meraih medali di panggung dunia, publik bersorak, media berlomba memberitakan, dan pemerintah pun memberikan bonus. Namun, bagaimana nasib anak-anak Indonesia lainnya yang juga mengharumkan nama bangsa Indonesia lewat sains, seni, teknologi, debat internasional, atau bahkan aktivisme sosial? Apakah mereka yang mendapatkan sorotan dan apresiasi yang setimpal?
- Siapa yang sering terlupakan?
Tak bisa dipungkiri, banyak anak Indonesia yang berhasil menorehkan prestasi di ajang internasional—baik itu dalam bidang matematika, fisika, lomba startup, kompetisi karya tulis, hingga olimpiade budaya dan seni. Mereka membawa nama “Indonesia” ke panggung dunia, berdiri dengan bendera Merah Putih, namun pulang tanpa disambut siapapun. Tidak ada karpet merah, tidak ada insentif, bahkan berita pun nyaris ga ada.
Contohnya adalah siswa SMP yang menjuarai lomba matematika di Jepang, atau siswi SMA yang memenangi lomba riset lingkungan di Jerman. Nama mereka hanya beredar di grup WhatsApp sekolah atau sepotong unggahan instagram yang tenggelam di antara trend selebritas.
- Apa penyebab kurangnya apresiasi?
Salah satunya adalah kurangnya perhatian sistematis dari pemerintah pusat terhadap prestasi non-olahraga dan non-hiburan. Kita terbiasa menyoroti kemenangan di bidang yang familiar dan visual aja, seperti olahraga dan entertaiment, tapi sering melupakan mereka yang bekerja keras dalam diam, menulis, meneliti, dan menciptakan.
Selain itu, media juga punya peran besar. Jarang sekali media nasional menempatkan prestasi akademik atau sosial remaja di headline, kecuali jika viral terlebih dahulu di media sosial.
- Dimana letak Ketimpangan ini terlihat?
Ketimpangan ini terlihat jelas ketika atlet peraih emas langsung mendapatkan sambutan resmi dan bonus ratusan juta rupiah, sementara anak muda yang memenangkan lomba esai internasional hanya mendapatkan piagam dan rasa syukur dari sekolahnya. Keduanya sama-sama membawa nama Indonesia. Keduanya berjuang, tapi perlakuannya sangat berbeda.
- Bagaimana Dampaknya?
Kurangnya apresiasi yang setara bisa melemahkan motivasi anak-anak muda berprestasi non-mainstrem. Banyak dari mereka yang akhirnya memilih mengembangkan potensinya di luar negeri, di mana riset mereka dihargai, karya mereka didukung, dan potensi mereka dipupuk.
Lebih buruk lagi, Ketimpangan ini bisa menciptakan persepsi bahwa hanya prestasi tertentu saja yang “layak dihargai”, dan itu mencederai semangat kesetaraan dan keberagaman bakat.
- Siapa yang seharusnya bertanggung jawab?
Pemerintah, khususnya kementerian terkait seperti Kemenpora, Kemendikbud, dan Kemenristek, harus lebih aktif dalam menjaring, memantau, dan memberikan apresiasi yang adil bagi semua bentuk perjuangan anak muda. Apresiasi tidak harus uang, tetapi dukungan moral, publikasi, bimbingan lanjutan, dan akses beasiswa adalah bentuk penghargaan nyata yang sangat berarti untuk mereka.
Masyarakat dan media juga punya tanggung jawab moral untuk membesarkan semua cerita perjuangan anak negeri, bukan hanya yang viral atau populer saja.
- Apa solusi yang baiknya?
Sudah waktunya Indonesia memiliki sistem nasional apresiasi prestasi lintas bidang—sains, seni, olahraga, teknologi, literasi, dan aktivisme. Anak muda yang bersinar di mana pun seharusnya bisa merasa bangga dan merasa diperhatikan oleh negaranya.
Kesimpulannya
Anak-anak muda Indonesia berjuang di banyak Medan, dan semuanya penting. Mengharumkan nama bangsa tak hanya soal medali emas atau piala besar—tapi juga tentang gagasan, karya, dan dampak sosial yang mereka torehkan.
“Jika negeri ini ingin besar, maka ia harus belajar menghargai seluruh bentuk perjuangan anak mudanya—tanpa pilih kasih”
(Fauziyyah Julianni/Author Prestma)