Pernahkah kamu ingin menyampaikan pendapat, tapi akhirnya diam? Bukan karena tidak tahu, bukan karena tidak peduli, tapi karena takut. Takut disalahpahami. Takut dikutip di luar konteks. Takut dibatalkan oleh gelombang kemarahan digital yang bisa datang dari arah mana saja. Di era sekarang, suara bisa menyebar dalam hitungan detik, namun justru di tengah kelimpahan ruang ekspresi ini, semakin banyak orang yang memilih untuk menahan diri. Bukan karena tidak punya gagasan, melainkan karena cemas akan konsekuensinya.
Dulu, internet disebut-sebut sebagai ruang demokratis, tempat di mana siapa pun bisa bersuara tanpa batas. Tapi kini, rasanya seperti berjalan di atas ranjau. Satu kata yang tidak sesuai bisa berubah menjadi bumerang. Satu pendapat yang jujur bisa diubah menjadi bahan amarah massal. Dan di sinilah muncul sebuah paradoks baru: semakin bebas kita bisa bicara, semakin banyak juga orang yang takut melakukannya.
Fenomena cancel culture, outrage culture, dan berbagai bentuk pembungkaman digital bukan hanya terjadi pada figur publik. Siapa pun bisa mengalami serangan daring. Kalimat dipotong, niat disalahartikan, komentar dibajak, lalu dijadikan bahan perdebatan yang memanas. Alih-alih berdiskusi atau memperluas pandangan, kita justru menunggu kesalahan orang lain untuk diserang. Kebebasan bicara akhirnya berubah menjadi kebebasan untuk menghakimi.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak diam-diam yang muncul di bawah permukaan. Ketika kita melihat seseorang dihakimi habis-habisan karena sebuah opini, kita mulai belajar untuk diam. Kita mulai merasa bahwa lebih aman untuk tidak berpendapat, atau jika pun harus bicara, maka hanya yang sudah disaring, dipoles, dan terasa “netral.” Perlahan-lahan, ruang diskusi publik kita menjadi semakin tipis dan kaku. Hanya mereka yang punya pendapat “aman” yang terdengar. Sisanya memilih mundur. Dan ketika terlalu banyak orang tidak bicara, kita kehilangan keberagaman pikiran. Kita kehilangan percakapan yang jujur.
Padahal, kebebasan berekspresi bukan hanya tentang berbicara. Ia juga tentang ruang untuk belajar. Belajar artinya kita punya hak untuk salah, untuk dikritik dengan sehat, untuk memperbaiki diri. Tapi bagaimana mungkin proses itu bisa terjadi jika kesalahan sekecil apa pun langsung dijadikan alasan untuk menghakimi dan mengasingkan seseorang? Kita butuh ruang yang aman, baik di dunia nyata maupun digital, untuk berdiskusi, untuk bertanya, untuk menguji ide, bahkan untuk gagal. Ruang di mana orang tak langsung diberi label hanya karena satu kalimatnya keliru. Ruang di mana kita bisa saling mendengarkan tanpa segera membalas dengan serangan.
Banyak dari kita mungkin pernah mengalami momen ragu itu: saat ingin mengutarakan opini tapi memilih diam karena takut akan reaksi orang. Lalu, berapa banyak ide yang hilang karena ketakutan ini? Berapa banyak percakapan bermakna yang tak pernah terjadi karena semua orang lebih memilih aman?
Di tengah segala tantangan ini, mungkin sudah waktunya kita kembali bertanya: apakah kita masih memberi tempat untuk keberanian berbicara? Apakah kita cukup sabar untuk mendengar, bukan hanya yang sejalan, tapi juga yang berbeda? Apakah kita cukup dewasa untuk menerima bahwa tidak semua orang akan langsung benar dan itu tidak masalah?
Karena sejatinya, kebebasan berbicara bukan tentang siapa yang paling lantang, melainkan tentang siapa yang berani jujur dan siapa yang bersedia mendengarkan. Kita tidak butuh kesempurnaan dalam berkata-kata. Kita butuh keberanian untuk mencoba, keberanian untuk salah, dan keberanian untuk memperbaiki. Maka, mari jaga ruang bicara ini bersama. Mari ciptakan tempat yang membuat orang merasa cukup aman untuk berpikir keras, berbicara jujur, dan belajar tumbuh tanpa rasa takut.
Raihan Rosidah/author pretsma