Body Shaming

“Kok makin gendut sih?”, “kurus banget”, “ih, pendek banget, padahal kakak kamu tinggi.” Kalimat-kalimat semacam ini sering kali terdengar, seolah hanya sekadar bercanda. Namun, dibalik kata-kata tersebut, ada luka yang tak terlihat. Body shaming bukan sekadar lulusan, melainkan bentuk kekerasan verbal yang kerap kali merusak kepercayaan diri seseorang, bahkan meninggalkan trauma jangka panjang.

Body shaming termasuk tindakan memperlakukan atau mengkritik seseorang karena bentuk tubuhnya. Tidak peduli apakah itu tentang berat badan, tinggi badan, warna kulit, bentuk wajah, hingga penampilan fisik lainnya, semuanya tetap termasuk dalam tindakan yang menyakitkan.

  • Mengapa body shaming berbahaya?
  1. Merusak mental dan psikologis. Orang yang terus-menerus menerima komentar negatif tentang tubuhnya lebih rentan mengalami gangguan kecemasan, depresi, hingga eating disorder. Luka psikis yang ditinggalkan sering kali tidak terlihat, tapi dampaknya begitu nyata.
  2. Mengikis rasa percaya diri. Orang yang mengalami body shaming cenderung tumbuh dengan perasaan minder, selalu merasa tidak cukup baik, dan sulit menerima diri sendiri.
  3. Menghambat potensi diri. Tidak sedikit orang yang akhirnya takut tampil didepan umum, menolak kesempatan, hingga menarik diri sendiri dari lingkungan sosial karena dihantui ketidakpercayaan diri.
  4. Menormalisasi kekerasan verbal. Ketika body shaming dianggap candaan, perlahan masyarakat akan menganggap perilaku menyakitkan itu sebagai hal yang wajar, padahal sejatinya itu adalah bentuk kekerasan.

Dasar Hukum

Body shaming bukan perkara sepele. Menurut UU ITE Pasal 27 ayat 3, pelaku yang menyebarkan penghinaan atau pencemaran nama baik di media sosial bisa dikenakan hukuman pidana.

Selain itu, UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menegaskan bahwa setiap orang berhak atas rasa aman, bebas dari perlakuan yang merendahkan martabat.

  • Apa yang Bisa Kita Lakukan?

✅ Hentikan Candaan yang Menyakiti

Jangan menjadikan kekurangan fisik orang lain sebagai bahan lelucon, apalagi di depan umum.

✅ Dukung Kampanye Positif

Dukung gerakan body positivity yang mengajak orang mencintai tubuhnya sendiri, apa adanya.

✅ Tegur Secara Baik

Jika ada orang di sekitarmu yang melakukan body shaming, jangan ragu menegurnya. Sekecil apa pun, suara kita bisa membantu menghentikan budaya ini.

✅ Fokus Pada Kebaikan Diri

Belajar menerima dan mencintai diri sendiri adalah kunci utama melawan standar kecantikan atau tubuh yang toksik di masyarakat.

Setiap orang berhak merasa aman dengan tubuhnya, berhak dicintai tanpa harus memenuhi standar siapapun. Luka karena body shaming tidak akan pernah sembuh hanya dengan kata “bercanda”. Mulai hari ini, lebih bijaklah dalam berkata.

Karena di balik tawa palsu seseorang, bisa saja ada air mata yang tak terlihat.

📍Oleh: Fauziyyah Julianni/Author Prestma 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *