TEBING TINGGI — Di depan pintu masuk Pasar Monja, tepat di samping toko serba lima ribu, aroma santan segar dan gula merah merebak perlahan dari sebuah gerobak sederhana. Sederhana, tapi tidak pernah sepi. Di sanalah, sejak 1978, gerobak cendol milik keluarga Dahliana berdiri — diam-diam menjadi legenda kuliner Kota Tebing Tinggi.
Es cendol ini bukan cendol biasa. Tidak hanya karena rasanya yang khas — manis legit dari gula aren yang dipanaskan perlahan, santan murni perasan tangan, dan butiran cendol hijau dari tepung beras asli yang kenyal namun lembut — tapi karena kisah panjang yang dibawanya. Kisah tentang warisan rasa yang diracik melintasi tiga generasi.
Semua berawal dari tangan dingin Dahliana, seorang perempuan perintis yang mendorong gerobaknya ke tepi pasar kain pada akhir 1970-an. Ketika itu, ia menjajakan minuman tradisional yang belum banyak dilirik. Perlahan, cendolnya menjadi pembeda. Saat gerai es modern belum muncul dan minuman serba instan belum menjamur, es cendol Dahliana menawarkan kesegaran yang jujur — tak dibuat-buat.
Kini Eva Herlina, putri Dahliana, yang mengambil alih usaha ini pada 2005. Di tangannya, usaha keluarga itu bertahan, sekaligus berkembang. Eva tidak mengubah resep ibunya. Ia tahu, kekuatan dari dagangan ini bukan sekadar pada bahan, tetapi juga kepercayaan pelanggan yang terikat rasa.
Kini, estafet itu berlanjut ke generasi ketiga. Yogi Oriena Pasaribu, anak Eva, ikut menjaga dapur cendol tetap menyala. Di tengah gempuran minuman kekinian dan penjaja cendol instan yang mulai memenuhi pasar, Yogi tetap setia pada prinsip dasar keluarganya: rasa tak boleh berubah. “Kadang musim hujan, kadang paceklik. Tapi pelanggan selalu datang,” katanya singkat, saat Media menemuinya di sela-sela melayani antrean pembeli.
Cendol buatan keluarga Yogi Oriena tak hanya menjadi milik warga sekitar. Banyak dari luar daerah, bahkan para perantau yang pulang kampung, menyempatkan diri mampir hanya untuk menyesap segelas nostalgia. Sebagian besar tahu lokasinya tanpa perlu bertanya. Pasar Kain, pintu masuk Pajak Monja, dekat toko serba lima ribu — koordinatnya hidup di ingatan banyak orang.
Di kota kecil seperti Tebing Tinggi, ia berdiri tak jauh dari hiruk-pikuk pasar tradisional, namun cukup kuat untuk bertahan dari arus zaman. Tanpa baliho mencolok. Tanpa iklan daring. Hanya dengan kekuatan rasa dan ingatan.
Es cendol keluarga Yogi Oriena kini lebih dari sekadar minuman tradisional. Ia adalah bagian dari sejarah kuliner kota ini. Jejak rasa yang diwariskan dengan tangan-tangan penuh kesabaran dan cinta. Bagi banyak orang, menyesapnya seperti meneguk kenangan: dingin, manis, dan selalu ingin kembali.
Edo A.P Nasution