Kerja yang Kamu Suka, Maka Tak Akan Lelah? Mitos atau Fakta

“Kerja yang kamu suka, maka kamu tak akan merasa bekerja seumur hidupmu.”

Kalimat ini terdengar indah. Ia muncul di banyak poster motivasi, caption media sosial, bahkan dalam seminar pengembangan diri. Gagasan bahwa menemukan passion akan membebaskan kita dari kelelahan dan tekanan kerja terasa seperti solusi atas dunia kerja yang keras. Tapi benarkah begitu?

Bekerja di bidang yang kita cintai memang membawa kepuasan tersendiri. Ada rasa bangga saat melihat hasil kerja, ada semangat yang berbeda ketika bangun pagi. Kita merasa, “Inilah tempatku.” Namun, di balik perasaan positif itu, bukan berarti tubuh dan pikiran jadi kebal terhadap kelelahan.

Justru ketika kita mencintai pekerjaan, kita cenderung memberi lebih banyak dari diri kita seperti waktu, tenaga, perhatian, bahkan emosi. Kita rela lembur, menunda istirahat, menolak cuti, karena merasa “ini bagian dari mimpi.” Tapi perlahan, kita lupa bahwa tubuh punya batas, dan semangat juga bisa habis jika terus dipaksa menyala.

Ada anggapan diam-diam: jika kita benar-benar menyukai pekerjaan, kita tak akan merasa jenuh dan lelah. Ini tidak benar. Kita bisa sangat mencintai apa yang kita lakukan, tapi tetap merasa lelah. Sama seperti kita bisa menyayangi keluarga, pasangan, atau sahabat, tapi tetap butuh ruang untuk diri sendiri.

Mencintai pekerjaan tidak menghilangkan tuntutan yang datang bersamanya seperti tekanan dari atasan, target yang ketat, tuntutan sosial, atau bahkan ketidakpastian finansial. Perasaan lelah tetap ada. Perasaan ingin rehat tetap valid. Itu bukan tanda bahwa kita kurang bersyukur itu tanda bahwa kita manusia.

Ironisnya, bekerja dengan cinta sering kali membuat kita lebih sulit untuk berkata “cukup”. Karena pekerjaan ini terasa personal, kita pun terjebak dalam ekspektasi tinggi: harus sempurna, harus terus produktif, harus membuktikan bahwa kita layak menjalani passion ini.

Dan di dunia kerja modern, semangat itu bisa dimanfaatkan oleh lingkungan sekitar. Lembur dianggap biasa, waktu istirahat dikorbankan, dan kita terus didorong tanpa sadar atas nama “kecintaan pada pekerjaan”. Padahal, semangat pun bisa habis jika terus-menerus diperas.

Jadi, apakah bekerja sesuai passion membuat kita tidak lelah? Tidak sepenuhnya benar. Yang lebih tepat adalah: bekerja sesuai passion bisa membuat kita lebih kuat menghadapi tantangan, tapi tidak menghapus kebutuhan akan istirahat.

Mencintai pekerjaan bukan berarti mengabaikan batas. Justru karena kita mencintainya, kita perlu menjaganya dan menjaga diri sendiri dalam prosesnya.

——–

Passion itu seperti api. Ia bisa menghangatkan, menerangi, dan memberi arah. Tapi jika dibiarkan tanpa kendali, ia juga bisa membakar habis.

Maka, mencintai pekerjaan bukan berarti terus berlari tanpa henti. Kita juga perlu tahu kapan melambat, kapan berhenti sejenak, dan kapan berkata: “Aku butuh jeda.”

Karena pekerjaan yang baik bukan hanya yang membuat kita merasa hidup, tapi juga yang memberi ruang agar kita bisa tetap sehat, utuh, dan waras di luar segala pencapaian.

 

 

 

Raihan Rosidah/author prestasi muda 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *