Program Barak Militer yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, merupakan inisiatif pendidikan karakter bagi remaja yang dianggap bermasalah, seperti terlibat tawuran, geng motor, dan lainnya. bertujuan untuk membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa cinta tanah air melalui pendekatan semi-militer.
dilaksanakan di fasilitas militer seperti Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) III Siliwangi di Lembang dan Markas Resimen Armed 1/Sthira Yudha di Purwakarta. Selama 14-18 hari, peserta menjalani rutinitas ketat yang mencakup bangun pagi, salat berjamaah, latihan fisik, baris-berbaris, serta pelajaran bela negara dan kedisiplinan. ini juga mencakup pelajaran akademik yang diajarkan oleh guru yang ditugaskan khusus.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, menyatakan program ini mampu mengubah sikap dan karakter anak, Orang tua peserta juga melaporkan perubahan positif pada anak-anak mereka, seperti kebiasaan bangun pagi, rajin beribadah, dan lebih bertanggung jawab.
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai program ini tidak memiliki dasar pedagogis dan psikologis yang jelas serta berpotensi melanggar hak anak. Beberapa pengamat juga khawatir bahwa pendekatan militeristik dapat membuat anak-anak menjadi lebih agresif dan kehilangan kreativitas. Mereka menekankan pentingnya kurikulum yang jelas dan keterlibatan orang tua serta sekolah dalam pembinaan karakter anak.
——————————————————- •
Program Barak Militer Dedi Mulyadi merupakan upaya inovatif dalam menangani kenakalan remaja melalui pendekatan disiplin militer. Meskipun menunjukkan hasil positif dalam beberapa kasus, penting untuk terus mengevaluasi dan menyesuaikan program ini agar sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan dan hak anak. Keseimbangan antara disiplin dan pengembangan kreativitas harus menjadi fokus utama dalam implementasi program serupa di masa depan.