1. Pengantar
Cermin. Barang ini biasanya dipakai untuk memastikan penampilan kita, wajah, untuk mengaca dan lain sebagainya. Namun, cermin juga tidak pernah berbohong soal apa saja didalam pantulannya. Ia memantulkan tepat apa yang ada dihadapannya, secara jujur. Namun, bagaimana dengan pantulan diri kita sebenarnya?
Banyak diantara kita saat bercermin lebih condong untuk mengkritik, tidak mampu menerima segala kekurangan dan jarang ada penerimaan didalamnya. Mari sama-sama kita belajar, melalui tulisan ini untuk lebih mengenal diri secara jujur, tanpa ada kebohongan, dan memulai perjalanan semakin memahami diri kita sendiri.
2. Melihat Lebih Dalam.
Apa nilai nilai yang kita hargai dan terima? Kejujuran? Kebebasan? Apapun nilai tersebut, hal ini bisa menjadi kompas untuk bisa mengidentifikasi dan melihat apa saja prinsip hidup kita. Coba telaah kembali nilai yang kita pegang. Buang yang negatif dan ganti dengan nilai yang positif serta jangan lupa terapkan.
Setelah meneelah kembali nilai nilai dasar diri kita, kita perlu melihat kekurangan kita bukan sebagai ancaman atau kelemahan. Bagian ini memang sulit. Penerimaan diri memang tidak mudah. Perlu adanya kejujuran hati untuk melihat lebih dalam diri kita dan mampu jujur agar kita semakin terbuka dan mau memperbaiki. Kelemahan tadi bisa kita ubah menjadi kekuatan agar kita bisa melihat diri kita dengan yang berbeda dan unik.
Proses melihat jauh kedalam diri kita memang perlu waktu. Tidak perlu terburu-buru. Ambil jeda, jujur pada diri sendiri, dan bercermin untuk melihat apa saja yang ada di diri kita. Coba tuliskan segala kerisauan, kelemahan, kekurangan, isu, dan biarkan ini menjadi catatan agar kita bisa melihat kembali usaha perbaikan diri kita. Kita masih punya kesempatan untuk mengubah kekurangan kita menjadi pribadi yang semakin lebih baik.
3. Mencintai Apa yang Kita Lihat.
Proses penerimaan yang panjang dan membutuhkan waktu ini pada akhirnya menjadi sebuah penerima diri. Setiap orang punya cerita masing-masing, dengan berbagai kisah, latar, peristiwa dan tidak elok jika kita terus membandingkan diri dengan orang lain. Lebih baik fokus dengan apa yang kita punya, dan latih diri untuk merespon hal tersebut dengan hal hal positif.
Diri kita sendiri juga perlu dirayakan. Penting untuk mengapresiasi diri setelah banyak hal yang kita lakukan dalam upaya perbaikan dan penerimaan diri. Jangan lupa untuk merawat diri agar semakin lebih baik, fisik maupun non fisik. Ini adalah bentuk usaha kita dalam mencintai dan menghargai diri.
4. Cermin di Tangan Kita
Cermin adalah alat yang bagus. Jika dulu kita sering menggunakan untuk hal-hal kritik, namun, sekarang penting melihat diri kita dalam cermin untuk digunakan sebagai alat untuk melihat keunikan dan keindahan diri.
Tidak perlu terburu-buru untuk mempercepat proses penerimaan diri. Izinkan kita menghargai proses yang ada dan memberikan kita kesempatan melihat sejauh mana diri kita berkembang untuk hal yang lebih baik.
“Maka mulai dari sekarang, tatap cermin itu, lihat diri kita seutuhnya, dan lihatlah betapa menakjubkan dan berharganya diri kita yang kuat, dan terus berkembang ke arah yang lebih baik”.
Amelia Novita Gosal/Author Prestma